LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
PEWARNAAN BAKTERI
DAN TEKNIK PENGGUNAAN MIKROSKOP
Disusun Oleh :
Vigo Soambaton Sahat (2015210252)
Yeni Yuningsih (2015210261)
Yuliarti Sri Rahayu (2015210269)
Yumna Anisah (2015210272)
Zata Yumni Azizah (2015210278)
Weny Cristalina (2016212263)
Kelas/Kelompok : F/8
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA
2016 / 2017
DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang...................................................................... …… 1
Rumusan Masalah.................................................................……. 2
Tujuan Praktikum...................................................................…… 2
Manfaat Praktikum.................................................................…… 2
BAB II Tinjauan Pustaka
Pewarnaan sederhana dan Gram …........................................…… 3
Teknik Penggunaan Mikroskop ....................................................... 4
BAB III Metodologi Penelitian
Alat dan Bahan....................................................................... ….. 5
Cara Kerja.............................................................................…… 6
BAB IV Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan........................................................….. 9
BAB V Kesimpulan dan Pembahasan................................................ 10
Daftar Pustaka............................................................................. ….. 21
Lampiran............................................................................................ 21
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikroorganisme di muka bumi sangat beragam macamnya, bahkan dengan ukuran yang berbeda-beda dan jenis yang berbeda. Dalam pengklasifikasian mikroorganisme, akan sulit mendeteksi mikroorganisme dalam lingkungan terbuka tanpa bantuan alat pembesar.untuk dapat mengidentifikasi mikroorganisme, digunakan teknik pewarnaan dalam preparat yang nantinya akan dilihat dengan mikroskop, barulah mikroorganisme dapat di lihat dan di identifikasikan dengan melihat zat warna yang terserap oleh mikroorganisme. Pewarnaan mikroorganisme juga di gunakan untuk menunjukkan sebaran dan jenis bahan kimia berbagai komponen sel, sehingga dapat membedakan golongan-golongan dari mikroorganisme.
Tidak semua mikroorganisme dapat menyerap zat warna yang sama, maka akan digunakan zat warna sesuai dengan mikroorganisme yan gakan diidentifikasi. Teknik pewarnaan yang sering di gunakan di antaranya; pewarnaan sederhana, pewarnaan gram, pewarnaan spora, dan pewarnaan kapsul.
Manusia di muka bumi ini selalu ingin mengetahui apa yang ada di sekelilingnya yaitu segala sesuatu yang di ciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Baik sesuatu yang kasat mata maupun yang tidak tampak dengan hanya menggunakan mata telanjang. Dengan keterbatasan kemampuan yang ada sehingga manusia berusaha mencari suatu alat yang bisa digunakan untuk melihat benda tersebut. Mikroskop menjadi alat yang sangat penting dalam bidang ilmu biologi terkhusus ketika ingin mengamati zat/molekul-molekul yang berukuran cukup kecil yang tidak bisa dilihat dengan hanya mengandalkan penglihatan mata normal . Antonio van Leeuwenhoek(1674) merupakan orang yang berhasil menemukan menemukan mikroskop serta mengembangkan kekuatan lensanya sehingga mempunyai perbesaran yang besar. Ia kemudian mengembangkan kekuatan lensa mikroskopnya hingga ratusan kali. Leeuwenhoek telah membuat lebih dari 500 gambar mikroskop. Dalam desain dasar mikroskop Leeuwenhoek, sebagian orang menganggap itu hanyalah kaca pembesar (karena hanya terbuat dari 1 lensa saja), bukan mikroskop seperti yang digunakan sekarang (yang terdiri dari 2 lensa). Dibandingkan dengan mikroskop modern, mikroskop buatannya adalah perangkat yang sangat sederhana, hanya menggunakan satu lensa, terpasang dalam lubang kecil di piring kuningan yang membentuk tubuh instrumen. Mikroskop merupakan instrumen yang paling banyak digunakan dalam suatu kegiatan laboratorium . Karena hampir semua mata kuliah biologi memerlukan mikroskop dalam kegiatan laboratoriumnya.
Oleh sebab itu, mikroskop harus di perkenalkan sejak dini kepada seorang pelajar, apalagi kepada mahasiswa yang masuk dalam jurusan biologi. Mikroskop dipelajari guna mengetahui bagian-bagian serta fungsinya masing-masing agar dalam kegiatan laboratorium seorang mahasiswa tidak lagi kebingungan ketika hendak menggunakan mikroskop, serta bagaimana cara merawat mikroskop tersebut.
1.2 Perumusan Masalah
Pewarnaan mikroorganisme bermanfaat untuk mempelajari karakteristik serta membedakan mikroorganisme ke dalam kelompok-kelompok yang spesifik guna tujuan diagnosis/identifikasi. Pewarnaan sederhana bertujuan untuk melihat bentuk morfologis dan struktural bakteri. Sedangkan pewarnaan gram bertujuan untuk mengklasifikasikan bakteri ke dalam dua kelompok besar, yaitu bakteri gram positif dan gram negatif.
1. Apa tujuan dari pewarnaan spora?
2. Berapa macam struktur dan rangkaian endospora bakteri?
3. Zat pewarna apa saja yang diperlukan dalam pewarnaan spora?
1.3 Tujuan Praktikum
1. Melakukan beberapa teknik pewarnaan untuk identifikasi dan pengelompokan mikroorganisme.
2. Mengamati dan menganalisis hasil reaksi-reaksi pewarnaan di bawah mikroskop
3. Memperkenalkan komponen komponen mikroskop dan cara penggunaannya
1.4 Manfaat Praktikum
Setelah melakukan praktikum pewarnaan mikroorganisme, praktikan diharapkan mampu melakukan teknik pewarnaan spora serta pewarnaan kapsul. Serta mampu mengidentifikasi bagian, struktur dan rangkaian mikroba. Dan kemudian mampu menganalisis hasil reaksi-reaksi pewarnaan dalam mikroskop.
Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dari sebuah mikroskop beserta fungsinya dan mahasiswa juga mampu menggunakan mikroskop serta merawatnya dengan baik.
Pembahasan: mikroskop terdiri banyak perbesaran dari 4x-20x perbesaran, namun untuk melihat mikroba harus perbesaran 100x dengan penambahan minyak. Lalu, kita harus mengetahui fungsi mikroskop yang baik, supaya hasil kerja yang kita lakukan dapat diamati dengan baik.
Kesimpulan Mikroskop adalah alat utama untuk melihat dan mempelajari struktur benda-benda kecil. Mikroskop mempunyai bagian optik dan mekanik. Bagian optik meliputi lensa okuler, lensa objektif, kondensor, dan cermin, sedangkan bagian mekanik seperti kaki, kondensor, meja sediaan dan lain-lain. Macam- macam mikroskop adalah sebagai berikut a. Mikroskop Cahaya/optis, terbagi atas du jenis, yaitu: Mikroskop Biologi dan Mikroskop Stereo b. Mikroskop Elektron, terbagi ats dua jenis, yaitu: Mikroskop Elektron Transmisi(TEM= transmission electron microscope) dan Mikroskop Elektron Skening(SEM= scanning electron microscope).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PEWARNAAN SEDERHANA DAN PEWARNAAN GRAM PADA BAKTERI
Metode pewarnaan mikroba berfungsi untuk memberi warna sel atau bagian-bagian sel sehingga menambah kontras dan tampak lebih jelas. Pewarnaan mikroba dilakukan untuk mempelajari morfologi mikroba meliputi bentuk dan rangkaiannya, mempelajari struktur-struktur khusus yang dimiliki beberapa mikroba, dan untuk membedakan bakteri-bakteri ke dalam kelompok-kelompok guna tujuan klasifikasi dan diagnosis. Secara kimiawi, pewarna dapat didefinisikan sebagai suatu senyawa organik yang mengandung suatu cincin benzene dan suatu gugus kromofor dan auksokrom. Beberapa teknik pewarnaan yang dapat digunakan untuk visualisasi, klasifikasi, dan karakterisasi bakteri secara morfologis dan struktural, adalah sebagai berikut:
Pewarnaan sederhana
Pewarnaan ini menggunakan pewarna tunggal. Biasanya digunakan untuk visualisasi bentuk morfologis (kokus, basilus, spiral) dan susunannya (rantai, kluster, pasangan, atau tetrad).
Pewarnaan diferensial
Pewarnaan ini menggunakaan dua pewarna yang kontras. Biasanya digunakan untuk tujuan:
- Pemisahan/klasifikasi ke dalam kelompok-kelompok, seperti: pewarnaan gram, pewarnaan tahan asam.
- Visualisasi struktur, seperti: pewarnaan flagella, pewarnaan kapsul, pewarnaan spora, pewarnaan inti/nuklear.
Pewarnaan sederhana
Teknik pewarnaan sederhana bertujuan untuk melihat bentuk morfologis dan struktural bakteri. Pada pewarnaan sederhana, apusan bakteri diwarnai dengan pewarna tunggak, biasanya digunakan pewarna basa (yang bermuatan positif) sehingga akan berikatan dengan asam nukleat dan komponen dinding sel bakteri yang bermuatan negatif. Pewarna basa yang umum digunakan dalam pewarnaan sederhana adalah metilen biru, kristal violet, dan karbol Fuchsin. Waktu paparan/kontak antara pewarna dan sel bakteri untuk tiap pewarna berbeda, misalnya kabrol fuchsin butuh 15-30 detik, kristal violet 0 detik, dan metilen biru 1 sampai 2 menit.
Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram bertujuan untuk mengklasifikasi bakteri ke dalam dua kelompok besar, yaitu gram positif dan gram negatif. Pewarnaan gram membutuhkan lebih dari satu pewarna untuk mewarnai bakteri. Pewarna pertama disebut pewarna primer, digunakan untuk mewarnai seluruh sel. Reagen kedua yang ditambahkan adalah zat penghilang warna (decolorizing agent). Tergantung dari komponen selular sel bakteri, pehilang warna ini dapat menghilangkan atau tidak menghilangkan pewarna primer. Pewarna akhir yang digunakan adalah pewarna tandingan (counterstain) yang memiliki warna yang kontras terhadapa pewarna primer. Jika pewarna primer tidak hilang setelah diberi decolorizing agent, maka pewarna tandingan tidak akan diserap oleh sel bakteri dan warna awal akan tetap dipertahankan. Sebaliknya jika pewarna primer hilang setelah diberikan decolorizing agent, maka sel bakteri akan menyerap pewarna tandingan. Dengan cara ini, tipe dan struktur sel dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan pada warna yang tampak.
TEKNIK PENGGUNAAN MIKROSKOP
Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, yaitu mikroskop cahaya (mikroskop dua dimensi) dan mikroskop stereo (mikroskop tiga dimensi). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
Mikroskop terdiri dari bagian optik dan non optik. Bagian optik meliputi lensa-lensa dan bagian non optik meliputi kaki, meja objek, dan lengan.
Bagian-bagian mikroskop
|
Fungsi
|
Lensa okuler
|
Memperbesar bayangan yang dibentuk lensa objektif.
|
Pemutar lensa objektif
|
Memutar objektif sehingga mengubah perbesaran.
|
Tabung okuler/tabung pengamatan
| |
Meja benda
|
Spesimen diletakkan di sini
|
kondensor
|
Mengumpulkan cahaya supaya tertuju pada lensa objektif.
|
Lensa objektif
|
Memperbesar spesimen.
|
Pengatur kekuatan lampu
|
Memperbesar dan memperkecil cahaya lampu.
|
Main switch
|
Tombol on-off.
|
Cincin pengatur diopter
|
Menyamakan fokus mata antara mata kanan dan kiri.
|
Pengatur jarak interpupillar
|
Menaikkan/menurunkan kaca objek.
|
Penjepit spesimen
| |
Sumber cahaya
| |
Sekrup pengatur vertikal
| |
Sekrup pengatur horizontal
|
Menggeser ke kanan/kiri kaca objek.
|
Sekrup fokus kasar
|
Menaikturunkan meja benda (untuk mencari fokus) secara kasar dan cepat.
|
Sekrup fokus halus
|
Menaikturunkan meja benda secara halus dan lambat.
|
Sekrup pengatur kondensor
|
Menaikturunkan kondensor.
|
Observation tube securing knob
|
Sekrup pengencang tabung okuler.
|
Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimal 1000 kali. Mikroskop cahaya mempunyai tiga lensa, yaitu lensa objektif, lensa okuler, dan kondensor.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan bahan
A. Alat
- Mikroskop Cahaya
- kaca benda (object glass)
- Sengkelit/Jarum Ose
- Pembakar Bunsen
- Pipet tetes
- Penjepit kaca benda
- Kertas saring
- Kertas lensa
B. Bahan
- kultur atau biakan bakteri Eschericia coli
- kultur atau biakan bakteri Staphylococcus aureus
- kultur atau biakan dari media TSA dan SDA
- Minyak Imersi
- Gentian violet
- Karbol Fuchsin
- NaCl fisiologis
- Metilen biru
- Larutan Lugol
- Alkohol 96%
3.2 Cara Kerja
A. Penyiapan preparat apusan bakteri
1. Disiapkan kaca benda yang bersih. Dilewatkan dulu di atas nyala api pembakar bunsen untuk menghilangkan lemak-lemak yng masih menempel. Jarum ose atau sengkelit diflambir (disterilkan dengan memijarkan bagian bawah kawat logam di atasnyala api pembakar bunsen sampai merah membara), dibiarkan hingga 10 detik hingga dingin.
2. Untuk membuat preparat apusan dari biakan cair, diambil satu sengkelit biakan, kemudian ditempatkan pada permukaan kaca benda yang bersih. Jika berasal dari biakan pada (agar miring), sebelumnya diteteskan satu tetes NaCl fisiologis steril pada permukaan kaca benda yang bersih. Kemudian diambil satu sengkelit biakan dari agar miring dan suspensikan pada air suling yang ada pada permukaan kaca benda.
3. Biakan diratakan pada permukaan kaca benda dengan cara memutar jarum ose dengan putaran yang searah hingga diperoleh apusan yang tipis.
4. Direkatkan (difiksasi) apusan bakteri dengan cara dilewatkan preparat di atas nyala api pembakar bunsen, hingga preparat membentuk suatu lapisan tipis yang merekat pada kaca benda.
B. Pewarnaan Sederhana
1. Preparat yang telah dikeringkan dan difiksasi (direkatkan) diletakkan di tempat pewrnaan, kemudian dituangi oleh zat warna yang telah disaring yaitu, Karbol Fuchsin. Didiamkan selama 30-60 detik.
2. Zat warna dibuang, bilas dengan air kran.
3. Preparat dikeringkan di antara dua kertas saring atau di udara.
4. Diamati hasil pewarnaan.
C. Pewarnaan Gram
1. Preparat yang telah dikeringkan dan difiksasi (direkatkan) dituangi karbol gentian violet (pewarna primer), didiamkan selama 5 menit.
2. Zat warna dibuang, preparat dituangi dengan larutan lugol (berfungsi sebaga mordant, yaitu zat yang membentuk kompleks yang tak larut dengan mengikat pewarna primer), didiamkan selama 45-60 detik.
3. Kemudian preparat dimasukkan dalam silinder yang berisi alkohol 96% (decolorizing agent) sambil dogoyang-goyangkan selama 30 detik atau sampai tidak ada lagi zat warna yang luntur mengalir dari preparat.
4. Dibilas dengan air kran.
5. Preparat dituangi dengan Karbol Fuchsin (pewarna tandingan) dan didiamkan selama 1-2 menit.
6. Zat warna dibuang, dibilas dengan air kran, dikeringkan di antara dua kertas saring atau di udara.
7. Diamati hasil pewarnaan.
D. Teknik Penggunaan Mikroskop Cahaya
1. Lampu dinyalakan, kemudian tombol ON ditekan dan kekuatan lampu diatur dengan memutar bagian pengatur kekuatan lampu.
2. Diletakkan objek yang akan diamati pada kaca obyek dan ditutup dengan kaca penutup pada mejan benda kemudian dijepi dengan penjepit spesimen. Jika meja belum turun, dapat ditirunkan dengan sekrup kasar.
3. Diamati dengan menggunkan dua mata (kalau mikroskop dengan dua lensa okuler).
4. Diputar Revolving nosepiece pada perbesaran objektif 4x lalu sekrup kasar diputar sehingga meja benda bergerak ke atas untuk mencari fokus. Kemudian sekrup halus diputar untuk mendapatkan fokusnya. Dilakukan hal yang sama jika menggunkan perbesaran yang lebih tinggi.
5. Diamati apakan bayangan sama atau terbalik.
6. Sambil memandang ke dalam lensa okular, preparat digeser dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
7. Kemudian lensa obyektif diubah ke perbesaran yang lebih besar.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Tabel Hasil Pengamatan
Jenis Pewarnaan
|
Sampel
|
Gambar
|
Keterangan
|
Pewarnaan Sederhana
|
TSA
| |
Zat warna : Karbol Fuchsin
Bentuk : Rangkaian
Rangkaian : Berkelompok
|
SDA
| |
Zat warna : Karbol Fuchsin
Bentuk : Rangkaian
Rangkaian : Berkelompok
| |
Perwarnaan Gram
|
S.aureus
| |
Zat warna : Gentian Violet, Karbol Fuchsin
Nama Bakteri : Staphylococcus aureus
Bentuk : Bulat (Coccus)
Rangkaian : Berkelompok
|
E.coli
| |
Zat warna : Gentian Violet, Karbol Fuchsin
Nama Bakteri : Escherichia coli
Bentuk : Bulat (Coccus)
Rangkaian : Berkelompok
|
BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
Vigo Soambaton Sahat S.
2015210252
Pembahasan
Preparat bakteri yang akan diamati perlu dibakar (difiksasi) guna mematikan bakteri agar pengamatan berlangsung lebih aman, dan merusak enzim pada bakteri yang mungkin dapat melarutkan zat warna.
Pada pewarnaan sederhana cukup digunakan satu pewarna karna hanya bertujuan untuk mewarnai seluruh sel bakteri sehingga bentuk dan susunan bakteri dapat diamati dengan jelas.
Pada pewarnaan Gram, dibutuhkan dua jenis pewarna dengan warna yang kontras karena bertujuan untuk membedakan bakteri gram positif dan bakeri gram negatif. Bakteri gram positif dan negatif sama-sama memiliki lapisan peptidoglikan, hanya saja lapisan tersebut lebih tebal pada bakteri gram positif. Pada bakteri gram positif sitoplasma hanya dilindungi oleh lapisan peptidoglikan, sehingga ketika ditetesi gentien violet (pewarna utama), pewarna tersebut mewarnai seluruh bagian sel, dan dengan diteteskannya lugol kristal violet membentuk kompleks yang tidak mudah larut. Ketika dicuci dengan alkohol (96%), pewarna tidak larut , sehingga ketika diteteskan pewarna tandingan, sel bakteri tidak menyerap pewarna tersebut. Pada bakteri gram negatif, lapisan peptidoglikan dan sitoplasma dilindungi oleh outer membrane yang terdiri atas lipoprotein. Pewarna primer yang diperkuat oleh lugol akan larut ketika dicuci dengan alkohol, karena outer membrane pada bakteri larut oleh alkohol, sehingga sel bakteri dapat menyerap pewarna tandingan, yaitu karbol Fuschin.
Sebelum diamati di bawah mikroskop, preparat hasil pewarnaan terlebih dahulu ditetesi minyak imersi agar bayangan yang terbentuk lebih jelas, dan agar zat warna tidak menempel dan merusak lensa mikroskop.
Kesimpulan
1. Pewarnaan sederhana dilakukan dengan satu zat warna, sedangkan pewarnaan Gram dengan dua zat warna.
2. Pengelompokkan bakteri hasil pewarnaan Gram dilakukan berdasarkan perbedaan warna antara pewarna utama dan pewarna tandingan.
3. Pada bakteri dari media TSA dan SDA dilakukan pewarnaan sederhana sedangkan pada bakteri Eschericia Coli dan Staphylococcus aureus dilakukan pewarnaan gram.
Nama : Yeni Yuningsih
NPM : 2015210261
Pembahasan
Pada praktikum pewarnaan bakteri dan teknik penggunaan mikroskop, digunakan metode pewarnaan sederhana untuk SDA dan TSA, teknik pewarnaan sederhana ini bertujuan hanya untuk melihat bentuk morfologis dan struktural bakteri. Pewarnaan sederhana hanya menggunakan pewarna tunggal. Pada praktikum ini menggunakan zat warna karbol fuchsin yang memberikan warna merah untuk pewarnaan SDA dan TSA. Sebelum melakukan pewarnaan semua objek glass yang akan digunakan dibersihkan dahulu dari debu maupun lemak diatas spirtus lalu di lap bersih, agar saat pewarnaan bisa lebih mudah meratakannya. Sebelum melakukan pewarnaan pada bagian belakang objek glass diberi tanda bulat atau oval dengan OHP pen agar terlihat bagian yang akan kita amati, lalu dituangkan larutan NaCl 0,9% setengah tetes, ditaruh mikroba dengan jarum ose diatas objek glass lalu campu sebarkan menggunakan jarum ose dengan putaran searah, lalu ditambah zat warna karbol fuchsin diamkan selama 1-2 menit. Lalu dibilas dengan air keran dan dikeringkan dengan kertas saring. Lalu diamati dibawah mikroskop.
Pada TSA digunakan zat warna karbol fuchsin yang memberikan efek warna merah, dan dapat dilihat bentuk dari mikroba coccus dan rangkaiannya bergerombol. Pada SDA digunakan zat warna karbol fuchsin juga yang memberikan efek warna merah didapat bentuk mikroba coccus dan rangkaiannya dempet.
Sedangkan untuk pewarnaan bakteri SA (Staphylococcus Aureus) dan bakteri EC (Escherichia Coli) menggunakan teknik pewarnaan gram. Pewarnaan gram ini ditujukan untuk mengkalsifikasikan bakteri kedalam dua kelompok besar, yaitu Gram positif dan Gram negatif. Pewarnaan Gram merupakan pewarnaan diferensial, dimana dibutuhkan lebih dari satu pewarna untuk mewarnai bakteri. Pewarna pertama yang digunakan disebut pewarna primer, digunakan untuk mewarnai seluruh sel.
Pada pewarnaan gram dilakukan hal serupa dengan pewarnaan sederhana. Setelah preparat terfiksasi sempurna bakteri Staphylococcus Aureus maupun Escherichia Coli dituangi pewarna primer berupa gentian violet diamkan selama 5 menit. Zat warna dibuang, preparat dituangi dengan lugol (sebagai mordant) diamkan selama 45-60 detik. Lalu preparat dimasukkan ke dalam silinder yang berisi alkohol 96% (decolorizing agent) sambil digoyang-goyang sampai tetesan pada preparat tidak berwarna lagi. Bilas dengan air keran. Lalu preparat dituangi dengan karbol fuchsin (pewarna tandingan) diamkan selama 1-2 menit. Zat warna dibuang lalu dibilas dengan air keran. Amati hasil pewarnaan dibawah mikroskop.
Pada bakteri Staphylococcus Aureus memberikan warna ungu karenadinding peptidoglikannya lebih tebal sehingga dapat meresap banyak pewarna primer, sehingga setelah ditambah karbol fuchsin tidak berubah warna. Bakteri ini biasanya berada pada saluran pernapasan atas dan kulit. Infeksi S.aureus ini diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis dan arthritis. Sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh karena itu bakteri ini disebut piogenik.
Sedangkan pada bakteri Escherichia Coli memberikan warna merah karena merupakan bakteri gram negatif, karena dinding peptidoglikannya lebih tipis sehingga zat warna primer pada gram negatif akan larut setelah ditambah alkohol , setelah itu ditetesi karbol fuchsin maka bakteri tersebut lebih mengikat karbol fuchsin. Jika tubuh kita terinfeksi bakteri E.coli yang terjadi pada manusia biasanya berasal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi, terutama sayuran mentah dan juga daging yang kurang matang. Gejala infeksi bakteri E.coli biasanya dimulai tiga hari hingga empat hari setelah tubuh terpapar oleh bakteri. Berikut ini adalah gejala-gejala yang muncul akibat infeksi E.coli : perut keram, diare dengan tingkat keparahan ringan hingga parah dan bahkan berdarah, kehilangan selera makan,mual dan muntah, demam, kelelahan.
Pada penggunaan mikroskop dengan perbesaran 100 bisa menggunakan oleum imersi.
Kesimpulan
l Pada pewarnaan SDA dan TSA digunakan metode pewarnaan sederhana, karena hanya menggunakan satu pewarna tunggal, pewarnaan sederhana berfungsi untuk melihat bentuk morfologi serta susuna bakteri.
l Sedangkan pada bakteri Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli menggunakan metode pewarnaan gram, pewarnaan gram berfungsi untuk mengelompokkan bakteri ke dalam dua kelompok besar yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
l Pewarnaan gram termasuk pewarnaan diferensial karena dibutuhkan lebih dari satu pewarna untuk mewarnai bakteri
l Pada penggunaan mikroskop dengan peresaran 100 menggunakan oleum imersi diatas objek glass.
Nama :Yuliarti Sri Rahayu
NPM :(2015-210-269)
Pembahasan
· Dari data yang didapatkan dengan pengamatan menggunakan mikroskop, dapat dilihat hasil pewarnaan spora pada bakteri Bacillus subtilis mempunyai bentuk spora berupa oval berwarna merah dan letak spora di pinggir (terminal) dengan bagian sel bakteri yang berwarna biru.. Sedangkan pada pewarnaan kapsul, pada bakteri dengan bakteri Klepsiella pneumoniae mempunyai bentuk sel berupa basil berwarna merah dengan bentuk dan warna selubung berupa basil tak berwarna.
· Praktikum pewarnaan ini harus dilakukan dengan teknik aseptis. Sehingga saat melakukan praktikum ini digunakan dua spirtus. Selain itu, ketika dilakukannya inokulasi dari tabung reaksi yang berisi bakteri ke object glass diharuskan sterilisasi pada ose, mulut dari tabung reaksinya, dan object glass-nya yang sudah dibersihkan. Teknik aseptis ini juga dilakukan ketika pemberian warna, yaitu dengan dilakukan di wastafel. Sebelum dilakukan pewarnaan, lebih baik keran air dinyalakan agar ketika membersihkan pewarnaan tersebut lebih steril.
· Sebelum dilakukan pewarnaan, sel bakteri harus difiksasi atau direkatkan dahulu pada object glass. Fiksasi ini bertujuan untuk menginaktivasi enzim yang mungkin dapat merusak morfologi struktur sel hingga sel tidak berubah saat diwarnai dan diamati.
· Pada pewarnaan spora, dilakukan penetesan asam belerang 1% di atas objek glass yang kemudian didiamkan selama 1-3 detik. Yang kemudian kaca objek tersebut dibilas dengan air. Penetesan asam belerang ini berfungsi untuk membilas (mencuci) atau melunturkan kelebihan zat warna pada sel bakteri (mikroorganisme). Selanjutnya diteteskan metilen biru di atas kaca objek tersebut kemudian didiamkan selama 2-4 menit. Setelah itu, kaca objek dibilas dengan air hingga warnanya hilang. Metilen biru ini berperan sebagai couterstain.
· Pada pewarnaan kapsul, terlihat nbahwa kapsul tidak berwarna atau bening. Hal itu disebabkan karena kapsul tidak dapat diwarnai dengan pewarna basa maupun asam, karena kapsul adalah materi yang tidak memiliki muatan. Selain itu, kapsul adalah materi yang larut dalam air sehingga mungkin dapat hilang/tercucuci dengan pembilasan yang berlebihan.
· Setiap akhir pemberian reagen atau pewarna, selalu dilakukan pembilasan terhadap kaca objekdengan menggunakan air. pembilasan ini bertujuan untuk mengurangi kelebihan setiap zat warna yang sedang diberikan. Setiap akhir pembilasan pada masing-masing reagen, perlu dilakukan penyerapan air bilasan dari air dengan menggunakan kertas tissu agar aquades tidak tercampur dengan reagen atau pewarna baru yang akan diberikan. Setelah pembilasan terakhir, gelas benda dikeringkan dan diamati di bawah mikroskop.
Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa untuk mengidentifikasi bakteri diperlukan adanya pewarnaan. Penggunaan pewarnaan bakteri ini disesuaikan dengan tujuan penggunaannya.
Pewarnaan spora bertujuan untuk membedakan antara spora bakteri dengan bentuk sel vegetatif bakteri serta mengetahui letak spora di dalam sel bakteri. Ada 7 macam struktur dan rangkaian endospora bakteri. Zat pewarna yang dibutuhkan dalam pewarnaan spora adalah karbol fuchsin dan metilen biru.
Pewarnaan kapsul bertujuan untuk membedakan kapsul dari sel bakteri. Yang diwarnai dalam pewarnaan kapsul adalah latar belakang dan badan sel bakteri. Zat pewarna yang dibutuhkan dalam pewarnaan kapsul adalah tinta cinta dan karbol fuchsin.
Nama : Yumna Anisah
NPM : 2015210272
Pembahasan
Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif).
Pada pewarnaan sederhana, bakteri diwarnai oleh reagen tunggal. Pewarnaan dasar dengan kromogen (zat warna) muatan positif disarankan selama asam nukleat bakteri dan komponen dinding sel membawa muatan negative yang menyerap dengan kuat dan mengikat kation kromogen perlu diperhatikan lamanya waktu pewarnaan tergantung pada jenis pewarnaan yang digunakan. Misalnya methilen blue terserap selama 2-3 menit, dengan demikian bakteri yang terdapat pada sampel akan menyerap zat warna yang diberikan. Pengecetan sederhana digunakan untuk memperlihatkan atau memperjelas kontras antara sel dan latar belakangnya sehingga dapat mempertajam bentuk dari sel-sel mikroba itu sendiri, dengan cara mewarnai sel-sel mikroba dengan zat pewarna.
Berdasarkan praktikum pada pewarnaan sederhana yang dilakukan, praktikan memilih zat pewarna yaitu karbol fuchsin yang apabila zat pewarna tersebut ditambahkan ke dalam suatu mikroba maka mikroba tersebut akan memberikan warna merah dan jenis mikroba yang digunakan adalah jenis mikroba yang berasal dari media agar miring TSA dan SDA. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh praktikan ternyata zat pewarna (karbol fuchsin) yang diberikan kepada mikroba hasilnya positif memberikan warna merah pada mikroba. Menurut hasil pengamatan pada pewaarnaan sederhana dari media agar miring TSA dam SDA mikroba yang telah diwarnai kemudian diamati bentuk maupun rangkaian dari mikroba tersebut dengan menggunkan mikroskop cahaya.
Namun sebelum diamati di atas meja spesimen, obyek berupa mikroba yang telah diwarnai diatas objek glass tersebut tidak ditutupi dengan menggunakan cover glass melainkan digunakan minyak imersi. Pada penggunaan minyak imersi, semakin kecil nilai pisah, kemampuan lensa akan semakin kuat untuk memisahkan dua titik yang berdekatan pada preparat atau obyek sehinnga struktur benda terlihat ebih jelas. Pengguanaan minyak imersi dilakukan dengan menetesi 1-2 tetes minyak imersi di sisi lensa. Jika telah selesai menggunakan mikroskop, lensa objektif dengan perbesaran 100x dibersihkan dengan kertas lensa yang dibasahi oleh xylol. Penggunaan minyak imersi ini juga berlaku untuk pengamatan pewarnaan gram mikroba dan hanya berlaku untuk perbesaran 100x. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan praktikan mikroba yang berasal dari media agar miring TSA memiliki bentuk yang berupa rangkaian yang bergerombol begitu pula dengan mikroba yang berasal dari media agar miring SDA yang juga memiliki bentuk seperti rangkaian dan bergerombol.
Pewarnaan Gram adalah pewarnaan diferensial yang sangat berguna dan paling banyak digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, karena merupakan tahapan penting dalam langkah awal identifikasi. Pewarnaan ini didasarkan pada tebal atau tipisnya lapisan peptidoglikan di dinding sel dan banyak sedikitnya lapisan lemak pada membran sel bakteri. Jenis bakteri berdasarkan pewarnaan gram dibagi menjadi dua yaitu gram positif dan gram negatif. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang tebal dan membran sel selapis. Sedangkan baktri gram negatif mempunyai dinding sel tipis yang berada di antara dua lapis membran sel.
Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna .
Pada praktikum kali ini dilakukan teknik pewarnaan yaitu pewarnaan pada bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli . Diawali dengan mengoleskan isolat bakteri dengan tujuan agar isolat bakteri dapat merata dikaca preparat dan yang sebelumnya telah diteteskan satu tetes NaCl fisiologis. Kedua gelas benda berisi sampel tersebut dipanaskan (fiksasi) di atas bunsen burner. Hal ini bertujuan untuk menguapkan air sehingga hanya akan didapat bakteri saja. Proses fiksasi juga bertujuan supaya bakteri benar-benar melekat pada gelas benda sehingga olesan bakteri berupa tetesan sampel tidak akan terhapus apabila dilakukan pencucian. Yang perlu diperhatikan dalam proses fiksasi adalah bidang yang mengandung bakteri dijaga agar tidak terkena nyala api.
Pemberian reagen atau pewarna yang berganti dari satu pewarna ke pewarna lain dengan waktu yang telah ditentukan disebabkan karena zat-zat warna tersebut dapat berikatan dengan komponen dinding sel bakteri dalam waktu singkat. Karena itulah rentang waktu pemberian zat warna yang satu ke yang lainnya tidak lama sehingga proses identifikasi bakteri berlangsung cepat (efisiensi waktu). Pada praktikum ini, praktikan menggunakan jenis reagen yang berupa larutan lugol, pewarna primer berupa karbol gnetian violet dan pewarna tandingan berupa Karbol Fuchsin.
Setiap akhir pemberian reagen atau pewarna, selalu dilakukan pembilasan terhadap gelas benda dengan menggunakan aquades. pembilasan ini bertujuan untuk mengurangi kelebihan setiap zat warna yang sedang diberikan. Setiap akhir pembilasan pada masing-masing reagen, perlu dilakukan penyerapan air bilasan dari aquades dengan menggunakan kertas tissu atau kertas saring agar aquades tidak tercampur dengan reagen atau pewarna baru yang akan diberikan. Setelah pembilasan terakhir, gelas benda dikeringkan dan diamati di bawah mikroskop. Jika terbentuk warna ungu maka termasuk golongan bakteri gram positif , dan jika terbentuk warna merah atau merah muda maka termasuk golongan bakteri gram negatif.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pada bakteri Staphylococcus aureus setelah diberikan zat warna tandingan bakteri tersebut memberikan warna ungu sehingga bakteri Staphylococcus aureus termasuk kedalam bakteri gram positif yang memiliki bentuk seperti kelapa (coccus) dan bantuk rangkainnya pun saling berdempetan. Lalu pada bakteri Escherichia coli setelah diberikan zat warna tandingan bakteri tersebut memberikan warna merah sehingga bakteri Eschericia coli termasuk kedalam bakteri gram negtif yang memiliki bentuk basil dan rangkaian dari bakteri ini adalah tersebar.
Kesimpulan
1. Teknik pewarnaan untuk identifikasi dan pengelompokan mikroorganisme ada 2 macam yaitu pewarnaan sederhana dan pewarnaan gram yang termasuk kedalam pewarnaan diferensial.
2. Bakteri dapat dibedakan melalui teknik pewarnaan gram. Teknik pewarnaan tersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu. Bakteri gram negatif ditandai dengan pewarnaan merah, sedangkan yang positif berwarna ungu.
3. Hasil reaksi pewarnaan sederhana pada bakteri dari media agar miring TSA dengan menggunakan zat pewarna Karbol Fuchsin memberikan warna merah. Bentuknya seperti rangkaian dan bergerombol.
4. Hasil reaksi pewarnaan sederhana pada bakteri dari media agar miring SDA dengan menggunakan zat pewarna Karbol Fuchsin memberikan warna merah. Bentuknya seperti rangkaian dan bergerombol.
5. Hasil reaksi pewarnaan gram pada bakteri Staphylococcus aureus memberikan warna ungu yang menandakan bahwa bakteri tersebut termasuk kedalam bakteri gram positif, memiliki bentuk coccus, dan rangakainnya berdempet.
6. Hasil reaksi pewarnaan gram pada bakteri Escherichia coli memberikan warna merah yang menandakan bahwa bakteri tersebut termasuk kedalam bakteri gram negatif, memiliki bentuk seperti basil, dan rangakainnya tersebar.
Weny Cristalina
2016212263
Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kami mempelajari bagaimana cara menggunakan mikroskop cahaya sekaligus melakukan pewarnaan bakteri dan mengamatinya di mikroskop cahaya. Kami mendapat 4 sampel bakteri yaitu bakteri biakan E.coli, bakteri biakan S.aureus, dan bakteri yang sudah ditanam pada media agar miring pada pengamatan sebelumnya yaitu di SDA dan juga TSA.
Langkah pertama kami menyiapkan 4 object glass bersih beserta kertas saring yang sama besarnya dengan object glass tersebut. Sebelum dioleskan dengan bakteri, kami membersihkan kacanya terlebih dahulu dengan melewatkan diatas spiritus dan kemudian memberikan tanda bulat di belakang object glass dengan spidol. Kemudian kami membuat preparat dengan cara, meneteskan 1 tetes NaCl fisiologis yang kemudian ditambah dengan biakan bakteri, disuspensikan secara merata pada object glass seukuran dengan bulatan yang telah dibuat. Selanjutnya, bakteri tersebut difiksasi dengan cara melewatkannya diatas lampu spiritus sampai bakteri tersebut menempel pada object glass. Hal yang sama kami lakukan pula pada tiga sampel lainnya.
Untuk pewarnaan sederhana, kami lakukan untuk sampel SDA dan TSA. Caranya dengan menuangkan zat warna pada preparat berisi bakteri. Kami memilih Karbol Fuchsin sebagai pewarna agar nantinya bakteri yang akan kami amati berwarna merah. Setelah kami teteskan dengan karbol fuchsin, kami diamkan selama lebih dari 2 menit. Kemudian kami bilas dengan air mengalir sampai tetesan terakhir pada preparat berwarna bening. Usahakan dengan volume air mengalir yang sangat kecil agar tidak menghapus semua bakterinya. Setelah itu kami keringkan dan kami amati dibawah mikroskop cahaya.
Untuk pewarnaan gram, sampel yang kami amati adalah bakteri biakan E.coli dan S.aureus. Caranya preparat kering berisi bakteri kami teteskan Gentian Violet dan kami diamkan selama 5 menit, kemudian kami buang zat warna sambil kami teteskan lugol sampai tidak ada lagi warna ungu yang keluar diujung preparat. Setelah itu teteskan kembali dengan lgol dan kami diamkan selama 2 menit. Kemudian, kami masukkan ke beaker glass berisi alkohol sampai zat warna yang tidak terikat luntur. Setelah itu, kami bilas sekali lagi dengan air kran, dikeringkan dan diamati dibawah mikroskop cahaya.
Hasilnya, pada pengamatan bakteri pada TSA dan SDA. Bakteri yang kami amati berwarna merah karena sudah diteteskan dengan karbol fuchsin. Pada TSA dan TSA, bentuk bakteri itu sama-sama membentuk rangkaian yang cenderung bergerombol/berkelompok. Untuk bakteri E.coli, bentuknya basil dan rangkaiannya tersebar merata, juga sebagian besar berwarna merah. Hal ini terjadi karena E.coli merupakan bakteri gram negatif yang bisa mengikat warna merah. Sedangkan pada S.aureus, bakteri tersebut berbentuk coccus (bulat) yang cenderung bergelombol dan bewarna ungu. Hal ini terjadi karena S.aureus merupakan bakteri gram positif yang bisa mengikat warna ungu.
Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan :
1. Pada pewarnaan sederhana, hanya diperlukan 1 zat warna untuk melihat bentuk bakteri tersebut.
2. Bakteri gram positif dapat mengikat warna ungu sedangkan bakteri gram negatif dapat mengikat warna merah.
3. Penting untuk melakukan prosedur kerja secara benar, terutama dalam proses pewarnaan dan pembilasan. Pada pewarnaan agar bakteri dapat mengikat warna yang sudah diberikan. Sedangkan pada pembilasan harus dilakukan dengan air mengalir yang volumenya kecil untuk mencegah terhapusnya bakteri dari preparat.
DAFTAR PUSTAKA
J Pelczar, Michael, Jr., dan E.C.S Chan. 2013. Dasar – Dasar Mikrobiologi, Buku ke-1. Jakarta : UI Press.
T. Pratiwi, Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : EMS.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Brooks F. Geo, Mikrobiologi Kedokteran, Edisi 20, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
Pelczar J. Michael, 1988, Dasar-dasar Mikrobiologi, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
Radji M., Buku Ajar Mikrobiologi: Panduan Mahasiswa Farmasi & Kedokteran, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran..
LAMPIRAN



